Travel Digital Di Era Milenial

Jadi kemajuan teknologi saat ini memang sangat berdampak pada kehidupan kita saat ini.Pada era ini manusia khususnya era milenial sangat bergantung pada teknologi,seperti contoh nya manusia dapat berkomunikasi dengan jarak yang sangat jauh bahkan jika merasa lapar bisa dengan sangat mudah untuk memesan makanan tanpa harus beranjak dari ranjang,sangat mudah bukan?.Kali ini saya akan membahas bagaimana cara menggunakan teknologi untuk meningkatkan pariwisata khususnya di Indonesia.
Sudah menjadi hal yang sangat umum, jika pariwisata dunia dikuasai oleh milenial tourism. Maka itu, pariwisata di Tanah Air sudah harus menuju ke digitalisasi.Apa itu digitalisasi?,secara kamus besar bahasa Indonesia makna dari kata digitalisasi adalah proses pemberian atau pemakaian suatu sistem digital.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengajak para pelaku industri pariwisata yang tergabung dalam ASITA untuk menggalakkan digital dan milennial tourism di Indonesia.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pentingnya isu Digital & Millennial Tourism untuk dikembangkan dan digalakkan di Indonesia.
“Syaratnya go digital. Tanpa itu, kita tidak akan bisa bertumbuh makin tinggi. Dan kita sulit bersaing dengan pasar dunia yang semakin ketat,” kata Menpar Arief Yahya, saat Pelantikan sekaligus Rakernas DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) tahun 2019-2024 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin 8 April 2019.
Dia juga menekankan, Pemeritah terus mendukung industri pariwisata di Indonesia, untuk menjadikan sektor pariwsata menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar di Tanah Air salah satunya dengan cara digitalisasi.
Arief Yahya mengatakan, peran pemerintah melalui Kementerian Pariwisata yang paling utama adalah mendukung para pelaku Industri untuk tumbuh dan berkembang.
“Industri lead and goverment support. Pemerintah melayani industri bukan sebaliknya. Ini patut disyukuri komitmen kuat dari Industri dan harus dijaga oleh semua elemen Pentahelix, ABCGM (Academician, Business, Community, Government, Media). Kemenpar mendukung ASITA,” kata Menpar Arief Yahya.
Menpar Arief juga menjelaskan pertumbuhan pariwisata di Indonesia menjadi salah satu paling tercepat di dunia. Untuk itu pemerintah fokus pada dua hal, yang pertama deregulasi dan yang kedua adalah digitalisasi.
Menurut dia, transformasi melalui digital saat ini paling tepat dilakukan karena hampir 70 persen wisatawan ke Indonesia sudah menggunakan digital.
“Di pariwisata, ‘search and share’ itu 70 persen sudah melalui digital. Sudah tidak lagi bisa mengandalkan ‘walk in service’, menyuruh pelanggan datang langsung ke kantor travel agent untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata,” kata Menpar Arief Yahya.
Selain itu, Menpar juga mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin dengan ASITA selama ini. Menpar mengharapkan kerja sama dengan ASITA terjalin dengan semakin baik di kepengurusan baru.
Dalam Rakernas DPP ASITA 2019, Menteri Pariwisata juga melantik Ketua sekaligus jajaran Dewan Pengurus Pusat ASITA untuk masa bakti 2019-2024 di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta.
Peran industri pariwisata yang tergabung dalam ASITA, kata Arief Yahya, sangat penting untuk menjadikan sektor pariwisata memiliki daya saing.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Nunung Rusmiati yang baru saja dilantik menambahkan pihaknya sangat mengapresiasi dukungan pemerintah yang selalu ada di belakang industri.
“Terima kasih kepada pemerintah yang mendengarkan keluhan industri kami terkait tiket pesawat yang sudah mulai turun. Dampak kenaikan tiket pesawat sangat terasa sekali lantaran penyebaran wisatawan menjadi tidak merata di Indonesia. Dan pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk membantu industri pariwisata,” ujarnya.
Nunung Rusmiati dalam sambutannya menetapkan komitmen untuk mendukung pengembangan sektor Pariwisata Indonesia. ASITA memiliki 7.000 anggota yang tersebar di 34 provinsi. Di antaranya adalah melalui partisipasi dalam program-program Kementerian Pariwisata.

Generasi milenial mengubah industri pariwisata.
Milenial sendiri merupakan potensi pasar yang besar, termasuk untuk industri
pariwisata. Menurut data dari Accenture, milenial merepresentasikan 45 persen
dari populasi di Asia Pasifik. “Sementara itu, 60 persen populasi milenial
secara global di tahun 2020 akan berada di Asia. Jadi milenial sangat
signifikan untuk industri. Milenial memiliki daya beli yang besar, dengan
prediksi mereka akan mengeluarkan 6 triliun dollar AS di tahun 2020 untuk
barang dan jasa,” ungkap Senior Managing Director Global Lead Consumer
Industries Accenture Consulting, Teo Correia, di Singapura, saat ditemui pada
acara Milenial 20/20 Summit Singapura, Rabu (7/9/2016). Hal ini tentu
menjadikan milenial sebagai potensi besar di berbagai industri, termasuk
pariwisata. Hanya saja, Teo menuturkan bahwa salah satu karakteristik milenial
adalah mereka bisa saja setia pada sebuah brand, namun dengan mudah beralih.
“Kalau ada alternatif lain yang lebih bisa memberikan keuntungan, mereka
akan beralih,” katanya. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri.
Oleh karena itu, Teo menyarankan bahwa brand harus terus berinovasi terutama
untuk penggunaan teknologi digital.

Seperti
diungkapkan Senior Managing Director Products, Digital Customer Lead, Accenture
Consulting, Simon Eaves, milenial menginginkan sebuah kemudahan dan juga
pengguna teknologi digital. “Mereka menginginkan kemudahan dengan
teknologi digital dari ujung ke ujung. Ingin ada hubungan mulai dari baru keluar
rumah, melakukan perjalanan, dan bahkan sampai ke rumah lagi. Jadi dari mulai
proses check-in di bandara, lalu bisa ke mana saja, hotel, dan
seterusnya,” kata Simon. Oleh karena itu, lanjut Simon, brand industri
pariwisata perlu memanfaatkan teknologi digital. Hal ini pun perlu diterapkan
mulai dari kapal pesiar, hotel, bahkan tempat wisata. “Misalnya sederhana
saja, gelang masuk ke theme park, dari gelang itu semua sudah ada informasinya,
rencana mau ke mana, ada pertunjukan apa. Dan semua harus terpersonalisasi,
sesuai dengan perilaku dan kebutuhan customer tersebut,” kata Simon. Simon
menambahkan salah satu karakter milenial adalah ingin sesuatu yang unik dan
terpersonalisasi sesuai karakter masing-masing.
Sementara itu Managing Director Products Accenture
Consulting, Yap Boom Lim mengatakan bahwa berdasarkan survei yang mereka
lakukan, lebih dari 50 persen milenial menggunakan peralatan digital untuk
berinteraksi dengan hotel. “Mereka menggunakannya dari sejak perjalanan
hingga seluruh perjalanan dan akhir perjalanan. Ini konsisten hasil surveinya,
tidak pandang negara mana, hal ini terjadi di seluruh dunia,” kata Lim.
Hal ini menunjukkan milenial menggunakan teknologi digital untuk mengatur
perjalanan mereka. Lim mengatakan karakter milenial senang melakukan segala
sesuatunya sendiri, mengutamakan efesiensi dan kemudahan, serta kurang sabar.
Oleh karena itu, lanjut Lim, tak heran teknologi digital memegang peranan
penting terhadap perilaku milenial. Accenture sendiri mengembangkan sebuah
platform digital yang jika digunakan sebuah industri pariwisata, entah itu
hotel, kapal pesiar, bahkan bandara, diyakini dapat memenuhi kebutuhan dan
sesuai karakter milenial.
Platform ini merancang kebutuhan perjalanan dalam satu
aplikasi, mulai dari keluar rumah hingga balik lagi ke rumah. Melalui aplikasi
ini, pengguna bisa mengetahui status pesawat terbang, proses check-in hotel,
mengatur kamar hotel yang diinginkan, kunci kamar hotel menggunakan ponsel,
hingga apa saja tempat wisata menarik di sekitar hotel. Semua hal bisa
dilakukan dalam satu genggaman. Accenture Consulting merupakan sebuah
perusahaan multinasional konsultan manajemen, teknologi, dan alih daya global.
Dalam acara Milenial 20/20 Summit pada 7-8 September 2016 dihadirkan 70 panel
diskusi yang mempresentasikan teknologi digital dan tren milenial di industri consumer
goods dan travel.

Ada tren baru di dunia traveling yang merebak sejak tahun 2015. Tren di mana mayoritas pelaku kegiatan traveling adalah para kaum muda, generasi millenial!
Generasi yang lahir antara tahun 1980 dan tahun 2000 (mungkin kamu satu di antaranya) ini telah merajai pergerakan traveling baik di dalam mau pun luar negeri.
Survei yang diadakanTopdeck Travel kepada 31.000 orang dari 134 negara berbeda, sebanyak 88 persen menyatakan telah menjelajah ke luar negeri sampai tiga kali dalam setahun dan 94 persennya merupakan rentang usia 18-30 tahun. Orang-orang muda dikatakan lebih tertarik untuk traveling ke luar negeri dibanding orang yang lebih tua.
PBB bahkan mengatakan bahwa 20 persen dari seluruh wisatawan dunia merupakan mereka yang masih muda, para kaum millennial. Mereka jauh lebih tertarik traveling sebanyak-banyaknya ketimbang generasi yang lebih tua. Tak pelak hal tersebut turut membantu meningkatkan pendapatan negara sebanyak 180 dolar per tahun, dan terus meningkat sejak 2007.
Millenial Membuat Gaya Traveling Sendiri

Dibandingkan generasi sebelumnya, millennial membuat gaya traveling jadi lebih menarik. Mereka bahkan membuat gaya tersendiri. Semisal persoalan keuangan yang pas-pasan, millennial sering mengakali pengeluaran selama traveling. Tiket promo pesawat dan tempat penginapan murah selalu jadi serbuan, pun dengan acara makan yang jauh dari restoran mewah. Tak jarang mereka menginap di rumah warga atau di tempat-tempat umum demi menghemat isi dompet. Mereka juga mencintai tempat yang dinaungi Wi-Fi dengan alasan murah. Ya, siapa sih yang tak suka Wi-Fi?
Untuk berpindah ke suatu tempat, millennial dengan pintarnya menolak transportasi umum jika mampu disiasati dengan berjalan kaki. Semua dilakukan demi menekan biaya yang harus dikeluarkan saat berada di negeri orang. Dengan berjalan kaki, uniknya justru mampu menjadikan Millennial jauh lebih bebas dalam berekspresi dan bersosialisasi. Mereka meresap keindahan alam lebih lama, menjadi familiar dengan destinasi yang dituju, dan tak jarang mendapat teman baru saat perjalanan.
Ditambah, perkembangan teknologi yang semakin cepat juga membuat hubungan para Millennial yang bertemu di perjalanan ini tak lekang oleh jarak dan waktu. Mereka bisa tetap berkomunikasi lewat media sosial.
Tak heran kelompok dan komunitas traveling sering kali terbentuk. Baik di Facebook atau Twitter. Anggotanya bukan hanya yang sudah bertemu. Yang tak pernah bertatap muka namun pernah mengarungi destinasi sama, juga ikut bergabung. Mereka berbagi cerita, pengalaman, serta tips traveling. Seolah tumbuh saling percaya dan rasa kekeluargaan. Bahkan fenomena yang sering terjadi saat ini adalah, jika ada generasi millennial ingin pergi ke satu negara, mereka akan lebih mendengar saran dari komunitas dibanding referensi seperti majalah atau situs resmi perusahaan pariwisata
Karena perkembangan teknologi yang cepat, millennial juga menciptakan tren open traveling (open trip). Sebuah konsep di mana mereka akan traveling bersama dengan orang yang belum pernah dikenal, namun memiliki semangat dan tujuan destinasi yang sama. Keuntungan dari konsep ini adalah mereka tak perlu repot mengumpulkan teman yang ujung-ujungnya tak jadi berangkat. Mereka juga bisa membagi biaya, dan mendapat pengalaman serta teman baru. Hal itu juga akan membuat mereka lebih antusias karena ada yang “ditunggu” saat traveling nanti.
Percayalah, meski millennial terlihat traveling seorang diri, namun mereka tak pernah benar-benar sendirian. Karena mereka―atau kamu―mengerti, ini adalah era millennial merajai dunia traveling.
