Bali memiliki “magnet” yang bisa menggaet wisatawan dari berbagai belahan dunia. Pulau Dewata ini punya beragam jenis wisata mulai dari alam, budaya, hingga kuliner. Tak heran Pulau Bali dinobatkan sebagai destinasi terbaik di dunia. Penghargaan ini diberikan oleh TripAdvisor lewat Travellers’ Choice Awards 2017. Mengutip situs resmi TripAdvisor.Bali menduduki peringkat pertama dari 25 destinasi terbaik di dunia. Mengalahkan destinasi-destinasi di Eropa, Amerika, sampai Timur Tengah. “Pulau Bali di Indonesia menjadi destinasi favorit baik untuk wisatawan yang butuh rileksasi sekaligus petualangan,” begitu ulasan tentang Bali yang dikutip dari situs TripAdvisor.
Daftar kekayaan destinasi pariwisata kuliner
Indonesia kembali bertambah. Kali ini, Ubud di Kabupaten Gilianyar, Bali,
dijadikan destinasi gastronomi sesuai standar organisasi pariwisata dunia UN
World Tourism Organization (UNWTO).
Hal ini disambut baik oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya, jika
ingin bersaing secara global maka harus menggunakan standar global sehingga
wisata kuliner di Indonesia dapat menjadi yang terbaik di dunia,
“Menjadi yang terbaik akan menaikkan level 3C. Ini sama seperti saat kita
meraih penghargaan dunia, yaitu Credibility, Confidence, and Calibrate. Begitu
pun program destinasi gastronomi berstandar UNWTO ini akan menjadi pencapaian
pariwisata Indonesia untuk menjadi yang terbaik di global,” ujar Arief
dalam keterangannya, Senin (12/6/2019).
Arief menjelaskan, bahwa kuliner Indonesia
sangat memungkinkan menjadi pemain global. Apalagi tren wisatawan saat ini
adalah mencari pengalaman otentik yang dapat memberikan konteks cerita yang
berkualitas. Tak hanya itu kuliner juga merupakan alat diplomasi yang paling
baik sehingga memberikan dampat positif bagi Indonesia.
“Dan ingat, kuliner merupakan diplomasi sosial yang paling halus, cepat,
dan efektif untuk mempopulerkan sesuatu ke pasar global. Sebagai contoh Amerika
dengan distribusi film Hollywood dan gaya hidup masakan cepat saji dan Korea
dengan drama K-Pop dan kulinernya. Tak saja mereka mampu mempopulerkan sosial
budayanya, namun juga memberikan dampak branding positif bagi
pariwisatanya,” jelas Arief.
Sektor kuliner dalam industri pariwisata juga menyumbang sekitar 30%-40%
pendapatan pariwisata. Ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,38% terhadap
perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp852,24 triliun, dari total
kontribusi tersebut subsektor kuliner menyumbang 41,69%.
Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja
Kemenpar Vita Datau mengatakan, program yang dikerjakan oleh Kemenpar dan UNWTO
ini memasuki tahapan penting yakni kunjungan tim yang ditunjuk oleh UNWTO untuk
melakukan pendalaman dan penilaian atas Ubud.
“Proses di lapangan akan berlangsung 8 hari di Ubud, Gianyar, dan
sekitarnya. Sedangkan questionares akan dilakukan online dan offline selama
tiga minggu. Pada tahap ini juga dilakukan perencanaan dan strategi
rekomendasi,” ujar Vita.
Dengan proses ini, Ubud selangkah lagi menjadi destinasi gastronomi sesuai
standar UNWTO. Selanjutnya UNWTO akan mengeluarkan rekomendasi yang perlu
diterapkan dan dilakukan oleh stakeholders serta dilakukan penilaian kedua yang
dijadwalkan awal Agustus 2019 mendatang.
Jika semua proses dilakukan dengan benar, maka Ubud dapat dinyatakan sebagai
destinasi gastronomi prototype UNWTO, yang telah sesuai dengan gastronomy
destination development guideline UNWTO.
“Diharapkan program ini akan selesai secepatnya dan Ubud menjadi prototype
gastronomy holistik pertama di Indonesia dan dunia,” kata Vita.
Tim UNWTO diwakili oleh Aditya Amaranggana sebagai Project Specialist mengatakan, UNWTO mengapresiasi segala upaya Indonesia. Karena kerja keras semua pihak, pada akhirnya Ubud berhasil terpilih sebagai destinasi prototype untuk Wisata Gastronomi.
“Kami salut dengan kerja sama yang terjalin sejak 2017 hingga mencapai tahap ini. Tiga hal yang penting program ini bahwa satu fokus UNWTO 2019 adalah SDG’s, kedua program ini bisa membantu pencapaian SDG’s 2030 karena gastronomi adalah sebuah ekosistem hulu ke hilir yang menyentuh banyak point di SDG’s,” kata Aditya.
Selain itu kata dia, gastronomi mampu membuka lapangan kerja baru di industri FnB (Food and Beverage) yang memiliki potensi bagus di dunia.
“Melalui program ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi Indonesia melalui Ubud Gianyar untuk menunjukan aset budaya gastronomi yang sangat luar biasa,” katanya.
Roberta Garibaldi, Lead Expert yang ditunjuk UNWTO, menjelaskan sebuah destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya, serta kualitas lokal produk. Dimana industrinya berkembang, amenitas gastronomi cukup mumpuni dan sustain. Seperti restaurants, warung, café, bar yang mengangkat kearifan lokal.
“Selain itu penetapan Ubud sebagai destinasi gastronomi juga dapat mendorong berbagai aspek. Seperti keberadaan pasar tradisional, pemasok wine, kopi, teh, produk organik, layanan edukasi gastronomi formal dan informal yang fokus pada kearifan lokal kuliner serta budaya makan setempat,” paparnya.




