Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Bali memiliki “magnet” yang bisa menggaet wisatawan dari berbagai belahan dunia. Pulau Dewata ini punya beragam jenis wisata mulai dari alam, budaya, hingga kuliner. Tak heran Pulau Bali dinobatkan sebagai destinasi terbaik di dunia. Penghargaan ini diberikan oleh TripAdvisor lewat Travellers’ Choice Awards 2017. Mengutip situs resmi TripAdvisor.Bali menduduki peringkat pertama dari 25 destinasi terbaik di dunia. Mengalahkan destinasi-destinasi di Eropa, Amerika, sampai Timur Tengah. “Pulau Bali di Indonesia menjadi destinasi favorit baik untuk wisatawan yang butuh rileksasi sekaligus petualangan,” begitu ulasan tentang Bali yang dikutip dari situs TripAdvisor.
Daftar kekayaan destinasi pariwisata kuliner
Indonesia kembali bertambah. Kali ini, Ubud di Kabupaten Gilianyar, Bali,
dijadikan destinasi gastronomi sesuai standar organisasi pariwisata dunia UN
World Tourism Organization (UNWTO).
Hal ini disambut baik oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya, jika
ingin bersaing secara global maka harus menggunakan standar global sehingga
wisata kuliner di Indonesia dapat menjadi yang terbaik di dunia,
“Menjadi yang terbaik akan menaikkan level 3C. Ini sama seperti saat kita
meraih penghargaan dunia, yaitu Credibility, Confidence, and Calibrate. Begitu
pun program destinasi gastronomi berstandar UNWTO ini akan menjadi pencapaian
pariwisata Indonesia untuk menjadi yang terbaik di global,” ujar Arief
dalam keterangannya, Senin (12/6/2019).
Arief menjelaskan, bahwa kuliner Indonesia
sangat memungkinkan menjadi pemain global. Apalagi tren wisatawan saat ini
adalah mencari pengalaman otentik yang dapat memberikan konteks cerita yang
berkualitas. Tak hanya itu kuliner juga merupakan alat diplomasi yang paling
baik sehingga memberikan dampat positif bagi Indonesia.
“Dan ingat, kuliner merupakan diplomasi sosial yang paling halus, cepat,
dan efektif untuk mempopulerkan sesuatu ke pasar global. Sebagai contoh Amerika
dengan distribusi film Hollywood dan gaya hidup masakan cepat saji dan Korea
dengan drama K-Pop dan kulinernya. Tak saja mereka mampu mempopulerkan sosial
budayanya, namun juga memberikan dampak branding positif bagi
pariwisatanya,” jelas Arief.
Sektor kuliner dalam industri pariwisata juga menyumbang sekitar 30%-40%
pendapatan pariwisata. Ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,38% terhadap
perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp852,24 triliun, dari total
kontribusi tersebut subsektor kuliner menyumbang 41,69%.
Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja
Kemenpar Vita Datau mengatakan, program yang dikerjakan oleh Kemenpar dan UNWTO
ini memasuki tahapan penting yakni kunjungan tim yang ditunjuk oleh UNWTO untuk
melakukan pendalaman dan penilaian atas Ubud.
“Proses di lapangan akan berlangsung 8 hari di Ubud, Gianyar, dan
sekitarnya. Sedangkan questionares akan dilakukan online dan offline selama
tiga minggu. Pada tahap ini juga dilakukan perencanaan dan strategi
rekomendasi,” ujar Vita.
Dengan proses ini, Ubud selangkah lagi menjadi destinasi gastronomi sesuai
standar UNWTO. Selanjutnya UNWTO akan mengeluarkan rekomendasi yang perlu
diterapkan dan dilakukan oleh stakeholders serta dilakukan penilaian kedua yang
dijadwalkan awal Agustus 2019 mendatang.
Jika semua proses dilakukan dengan benar, maka Ubud dapat dinyatakan sebagai
destinasi gastronomi prototype UNWTO, yang telah sesuai dengan gastronomy
destination development guideline UNWTO.
“Diharapkan program ini akan selesai secepatnya dan Ubud menjadi prototype
gastronomy holistik pertama di Indonesia dan dunia,” kata Vita.
Tim UNWTO diwakili oleh Aditya Amaranggana sebagai Project Specialist mengatakan, UNWTO mengapresiasi segala upaya Indonesia. Karena kerja keras semua pihak, pada akhirnya Ubud berhasil terpilih sebagai destinasi prototype untuk Wisata Gastronomi.
“Kami salut dengan kerja sama yang terjalin sejak 2017 hingga mencapai tahap ini. Tiga hal yang penting program ini bahwa satu fokus UNWTO 2019 adalah SDG’s, kedua program ini bisa membantu pencapaian SDG’s 2030 karena gastronomi adalah sebuah ekosistem hulu ke hilir yang menyentuh banyak point di SDG’s,” kata Aditya.
Selain itu kata dia, gastronomi mampu membuka lapangan kerja baru di industri FnB (Food and Beverage) yang memiliki potensi bagus di dunia.
“Melalui program ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi Indonesia melalui Ubud Gianyar untuk menunjukan aset budaya gastronomi yang sangat luar biasa,” katanya.
Roberta Garibaldi, Lead Expert yang ditunjuk UNWTO, menjelaskan sebuah destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya, serta kualitas lokal produk. Dimana industrinya berkembang, amenitas gastronomi cukup mumpuni dan sustain. Seperti restaurants, warung, café, bar yang mengangkat kearifan lokal.
“Selain itu penetapan Ubud sebagai destinasi gastronomi juga dapat mendorong berbagai aspek. Seperti keberadaan pasar tradisional, pemasok wine, kopi, teh, produk organik, layanan edukasi gastronomi formal dan informal yang fokus pada kearifan lokal kuliner serta budaya makan setempat,” paparnya.





Alasan Memilih Usaha Restoran sebagai Bentuk Peluang Usaha
Mengapa kita harus membuka usaha restoran padahal sudah banyak restoran yang sudah menjamur sampai ke pelosok? Nah, coba kita perhatikan dulu beberapa sebab peluang usaha restoran masih menjadi primadona di bidang kuliner.
Semua Orang Butuh Makan
Siapa yang tidak butuh makan? Hewan pun butuh makan setiap harinya. Bahkan ketika kita tidak sempat untuk membuat bekal, pastinya kita akan membeli makan di tempat makan bukan? Nah, maka dari itu membuka usaha restoran masih menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan.
Selain sebagai kebutuhan hidup, kita pun menjual makanan karena kita ingin mendapatkan uang untuk makan bukan? Nah, dari pada makan di restoran lain, lebih baik kita mempunyai restoran sendiri dengan keuntungan uang untuk kita sendiri juga.
Bisnis Restoran termasuk Bisnis dengan Jangka Panjang
Mengapa termasuk jangka panjang? Seperti yang telah disebutkan pada poin pertama yaitu setiap orang pasti membutuhkan makan. Dari sekian banyak penduduk di Indonesia, setidaknya ada beberapa yang ingin berkunjung ke restoran yang berbeda-beda setiap harinya.
Semakin ramainya sebuah daerah, pastinya peluang untuk membuka usaha restoran semakin meningkat. Anda bisa melihat beberapa daerah selatan Jakarta yang tadinya hanya sekedar perumahan saja, kini sudah menjadi ruko-ruko yang dipenuhi dengan berbagai jenis bisnis, salah satunya adalah bisnis rumah makan. Nah, masih butuh sebab lain bahwa usaha restoran itu menjanjikan?
Memiliki Omzet yang Setiap Hari
Yang biasanya mendapatkan gaji sebulan sekali, sekarang bisa mendapatkan gaji setiap hari dengan membuka bisnis restoran sendiri. Walaupun setiap harinya pengeluaran juga mengikuti, tetapi semua dana tersebut bisa dirangkum sehingga bisa memiliki pemasukkan yang stabil karena usaha rumah makan sendiri.
Beberapa alasan di atas bisa menjadi bahan pikir Anda untuk membuat usaha. Inilah yang membuat usaha restoran tidak termakan zaman. Tidak perlu terburu-buru, pastikan niat Anda memang sudah sejalan dengan usaha Anda.
Sambil memikirkan hal tersebut, mari kita lihat perkembangan usaha restoran sekarang ini. Ternyata telah banyak restoran maupun tempat makan lainnya yang memiliki konsep bervariasi. Dari menu tradisional sampai internasional. Apakah sudah tidak ada lagi kesempatan untuk membuka peluang usaha restoran? Tentunya masih banyak, tinggal bagaimana cara Anda untuk mengatur sampai mengeluarkan ide konsep restoran yang berbeda dengan tempat makan lainnya.
Apakah Anda sudah siap untuk membuat bisnis restoran sendiri? Berikut beberapa tips yang perlu Anda perhatikan dalam membuat bisnis rumah makan yang unik bagi pengusaha pemula.
Sebuah tempat yang nyaman tentunya akan mendapatkan pelanggan yang akan loyal dengan Anda. Bagaimana cara melakukannya? Anda harus mengetahui dulu kemauan pelanggan itu apa. Tidak perlu berpikir terlalu kerasn Biasanya tempat yang nyaman, pelayanan yang baik, makanan yang menarik bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mendapatkan konsumen yang loyal.
Contoh seperti rumah makan padang yang berkonsep makanan tradisional. Mereka menyajikan hidangan dengan cepat karena sudah disiapkan sebelum restoran dibuka. Padahal tempatnya sederhana seperti tempat makan biasa, tetapi pelayanannya yang cepat dan juga harganya yang terjangkau membuat pelanggan selalu mencari hidangan asli Sumatra Barat ini.
Bahan baku termasuk hal penting di usaha kuliner terutama restoran ini. Anda memerlukan pemasok atau supplier berkualitas. Mengapa demikian? Karena kualitas makanan Anda, terutama makanan di restoran, itu ditentukan dari bahan bakunya terlebih dahulu. Setelah itu baru proses mengolah sampai penyajiannya. Anda pastinya tidak mau menyajikan sayur busuk kepada pelanggan Anda bukan?
Sebuah lokasi terutama lokasi tempat bisnis sangat penting sekali untuk diperhatikan. Karena lokasi bisnis menentukan target pasar Anda. Maka dari itu, Anda butuh mengetahui dulu sasaran pasar Anda. Contoh jika target pasar Anda adalah ibu rumah tangga, Anda bisa menguasai penjualan di dekat perumahan. Atau jika target pasar Anda adalah orang yang bekerja, Anda bisa mencoba lokasi usaha dekat perkantoran. Pastikan lokasi usaha Anda sesuai dengan target pasar Anda.
Sebuah restoran yang sudah berkembang sangat penting sekali untuk segera mengurus perizinan usaha rumah makannya ke pemerintah. Seperti sertifikasi halal. Walaupun masih belum diwajibkan, tapi di tahun 2019 nanti setiap pemilik usaha diwajibkan untuk mempunyai sertifikat halal menurut viva.co.id. Jangan sampai restoran Anda diperiksa lalu belum mempunyai izin apapun yang resmi dari pemerintah.





Pariwisata Indonesia Saat Ini
Selama 3 tahun terakhir, Wonderful Indonesia mendapatkan lebih dari 100
penghargaan dari berbagai negara. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan event
pariwisata yang dilaksanakan Kemenpar di bawah kepemimpinan Arief Yahya sejak
menjabat sebagai Menteri Pariwisata. Arief Yahya sendiri pernah menjadi
Direktur Utama PT Telkom Indonesia [1]. Pada saat dilantik oleh Presiden
Jokowi, Kementrian Pariwisata yang di bawah kendali Arief ditargetkan untuk
meraih 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) sampai tahun 2019. Pada 2017
kemarin, wisman sendiri mampu mencapai 15 juta kunjungan ke Indonesia.
Beberapa hasil yang didapatkan pada periode Menteri Arief Yahya adalah, seperti pada tahun 2017 Indonesia mampu masuk diposisi 50 besar dunia tepatnya posisi 42 dunia di sektor pariwisata. Menteri Pariwisata juga mengajak seluruh pemangku kepentingan lain membangun sektor pariwisata dalam konsep ABGCM (Academic, Business, Government, Community, dan Media).
Kilas Parwisata Toraja
Pada tahun 1974, pertemuan PATA (Pasific Asia Travel Association) melaksanakan pertemuan di Toraja (Tongkonan Siguntu) yang dihadiri perwakilan dari 60 negara. Konferensi tersebut membuat Toraja semakin dikenal sebagai Daerah Tujuan Wisata yang handal [2].
Ketua Asita (Asosia Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) Sulawesi Selatan pada tahun 2015 menyatakan bahwa promosi pariwisata Toraja (Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja) perlu ditingkatkan lagi. Festival Internasional toraja cukup menarik diperkenalkan diluar negeri tetapi tidak terasa di Industri Travel [3]. Padahal kegiatan internasional yang berhubungan dengan Toraja dapat digunakan untuk mengarahkan wisatawan ke Sulawesi Selatan sekaligus menjual destinasi wisata lain.
Pada Maret 2018, Asita Sulawesi Selatan melakukan koordinasi dengan Dua Pemerintah Toraja yang katanya akan menyambut kehadiran peserta pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) – Bank Dunia (WB) pada Oktober 2018. Koordinasi yang telah dilakukan adalah hal sarana dan prasarana, akomodasi, transportasi termasuk kondisi jalan menuju lokasi objek wisata [4]. Bahkan dibeberapa berita media online juga menggembar gemborkan bahwa peserta IMF akan disambut dengan baik. Hasilnya, persiapan koordinasi yang sudah dilakukan dengan baik antara stakeholder tersebut, hanya mendapat hasil kosong. Peserta IMF batal ke Toraja
Jika merujuk pada berbagai kegiatan Pariwisata daerah lain, seharusnya setiap pemangku kepentingan Toraja tidak hanya terpaku pada berbagai event besar. Selama hampir 3 tahun pemerintahakan kedua bupati, tidak ada peningkatan dan berita signifikan keberhasilan pariwisata sebagai salah satu core economy Toraja. Padahal yang diketahui sebelum masuk era tahun 2000, Dunia hanya mengenal Bali dan Toraja, sebagai pariwisata yang menarik di Indonesia.
Pariwisata 4.0 dan Generasi Milenial
Revolusi Industri 4.0 tidak bisa dihindarkan. Tuntutan perkembangan teknologi ini membawa kita semua untuk siap menghadapi berbagai innovation di berbagai lini [6]. Dapat dilihat dengan maraknya ekspansi dunia digital dan internet ke Sebagai generasi muda juga mempunyai peran besar dalam melahirkan insan karakter dan kritis. Ada 4 hal penting di era Revolusi Industri 4.0 yaitu critical thingking, creativity, communication, dan collaboration.
Lalu, bagaimana dengan Generasi Milenial? Menurut Pew Research Center [7], generasi milenial adalah generasi yang terlahir antara tahun 1981 sampai 1996. Generasi tersebut dianggap lebih suka menghabiskan uang untuk pinik dibandingkan membeli rumah. Jika mengacu pada tahun 1998, usia generasi Milenial saat ini adalah berusia antara 22 tahun hingga 37 tahun.
Senior Director Global Lead Consumer Industries Accenture Consulting menyatakan bahwa ada 60 persen populasi milenial secara global di tahun 2020 akan berada di Asia [8]. Oleh sebab itu, milenial adalah sebuah potensi besar di Industri Pariwisata. Karakteristik milenial sendiri adalah mudah beralih dan pilih alternatif lain yang lebih bisa memberikan keuntungan. Milenial juga ingin sebuah kemudahan dalam berbagai aktivitas nya, hal ini bisa dimaksimalkan dengan penggunaan teknologi digital.
Ide Eco-Digital Pariwisata 4.0 Toraja
“Why build dinasty when can create ecosystem” sering terdengar pada startup berbasis Teknologi. Ya, internet adalah sebuah media promosi yang tepat bagi setiap stakeholder dua kabupaten Toraja. Ekosistem digital pariwisata 4.0 Toraja itu bukan hanya sekedar promosi, provider, platform, dan traveler. Atau hanya wisatawan dengan platform dan aplikasinya. Tetapi, bagaimana pemerintah dua kabupaten Toraja tersebut melakukan kerjasama baik dengan masyarakat lokal dan startup digital nasional dan internasional.
Pemerintah kedua Kabupaten harus mulai bangun ekosistem, bukan membuat lagi dari awal atau melakukan promosi yang boleh dikatakan hanya lari kosong (sia sia promosi tanpa hasil yang maksimal). Caranya? harus mengajak milenial profesional yang bergerak pada Industri Revolusi 4.0 untuk menyusun strategi kolaborasi dan SOP Kreatif, yang bertujuan mampu menggaet milenial agar berwisata ke Toraja.
Akhir tahun 2017, saya diundang oleh STAKN Tana Toraja, untuk memberikan pelatihan “Membuat Sendiri Website Moderen yang Elegan”. Pada sesi sharing, saya menyampaikan bahwa, apabila yang mengikuti pelatihan (sekitar 80 orang) ini menceritakan kampung halaman Toraja di blog atau website nya, akan sangat baik dalam membantu pemerintah mempromosikan Toraja di dunia Digital.
Saya pernah sharing dengan senior tentang anggaran promosi pariwisata Toraja dalam suatu even misalnya di Jakarta. Senior tersebut mengatakan untuk biaya promosi satu kali disebuah even bahkan ke internasional, bisa mencapai 300 – 500 juta rupiah. Hasilnya dapat diketahuai, promosi tidak maksimal dan sangat disayangkan menurutnya. Saya coba memberikan ide, lebih baik Pemerintah membuat lomba mengenai toraja, misalnya Lomba Menulis atau Lomba Bikin Vlog. Hadiah dan pelaksanaan pada lomba tersebut diberikan hadiah yang tidak sampai 25% dari biaya promosi ratusan juta. Secara tidak langsung, sudah promosi wisata Toraja.
Pemaparan diatas, dapat diampul kesimpulan temporary bahwa Pemerintah Kedua kabupaten harus lebih cerdas dalam memaksimalkan potensi. Saya sewaktu backpaker ke Singapur dan Vietnam, serta berwisata dalam negeri ke Serang, Solo, Manado, Bali dan Semarang dalam mencari spot seluruh kebutuhan baik tempat wisata, akomodasi, kuliner hanya modal menanyakan Google. Di Google, banyak blog dan website yang menceritakan caranya berwisata ditempat tersebut. Tidak pernah pergi ke stan even pariwisata pemerintah mereka. Sedangkan cari informasi ke Toraja, maupun Pare-pare dan Palopo yang provinsi Sulawesi Selatan, tidak memiliki informasi update. Pemerintah kabupaten kedua toraja dan provinsi Sulawesi Selatan, harus memikirkan solusi cerdas.
Saya ingin menyarankan pemerintah khususnya kedua kabupaten Toraja untuk membuat policy mengenai sebuah inovasi pariwisata 4.0. Pertama, inovasi dalam konteks pembangunan berkelanjutan pariwisata harus melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan pemangku kepentingan. Kedua, nilai inovasi harus memiliki nilai komersial agar dapat mendukung potensi industri pariwisata dan pelaku bisnis serta menarik generasi milenial, tetapi dalam artian tidak hanya memanfaatkan inovasi, tetapi mengantisipasi potensi dampak inovasi tersebut. Ketiga memaksimalkan potensi akademisi dan profesional kalangan milenial dalam proses nya, tidak hanya untuk sekedar menghasilkan inovasi baru, tetap
i memaksimalkan teknologi agar memastikan inovasi tepat sasaran ke generasi milenial serta tidak berakibat negatif bagi pembangunan berkelanjutan dan masyarakat lokal sekitar.





Travel Digital Di Era Milenial

Jadi kemajuan teknologi saat ini memang sangat berdampak pada kehidupan kita saat ini.Pada era ini manusia khususnya era milenial sangat bergantung pada teknologi,seperti contoh nya manusia dapat berkomunikasi dengan jarak yang sangat jauh bahkan jika merasa lapar bisa dengan sangat mudah untuk memesan makanan tanpa harus beranjak dari ranjang,sangat mudah bukan?.Kali ini saya akan membahas bagaimana cara menggunakan teknologi untuk meningkatkan pariwisata khususnya di Indonesia.
Sudah menjadi hal yang sangat umum, jika pariwisata dunia dikuasai oleh milenial tourism. Maka itu, pariwisata di Tanah Air sudah harus menuju ke digitalisasi.Apa itu digitalisasi?,secara kamus besar bahasa Indonesia makna dari kata digitalisasi adalah proses pemberian atau pemakaian suatu sistem digital.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengajak para pelaku industri pariwisata yang tergabung dalam ASITA untuk menggalakkan digital dan milennial tourism di Indonesia.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pentingnya isu Digital & Millennial Tourism untuk dikembangkan dan digalakkan di Indonesia.
“Syaratnya go digital. Tanpa itu, kita tidak akan bisa bertumbuh makin tinggi. Dan kita sulit bersaing dengan pasar dunia yang semakin ketat,” kata Menpar Arief Yahya, saat Pelantikan sekaligus Rakernas DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) tahun 2019-2024 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin 8 April 2019.
Dia juga menekankan, Pemeritah terus mendukung industri pariwisata di Indonesia, untuk menjadikan sektor pariwsata menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar di Tanah Air salah satunya dengan cara digitalisasi.
Arief Yahya mengatakan, peran pemerintah melalui Kementerian Pariwisata yang paling utama adalah mendukung para pelaku Industri untuk tumbuh dan berkembang.
“Industri lead and goverment support. Pemerintah melayani industri bukan sebaliknya. Ini patut disyukuri komitmen kuat dari Industri dan harus dijaga oleh semua elemen Pentahelix, ABCGM (Academician, Business, Community, Government, Media). Kemenpar mendukung ASITA,” kata Menpar Arief Yahya.
Menpar Arief juga menjelaskan pertumbuhan pariwisata di Indonesia menjadi salah satu paling tercepat di dunia. Untuk itu pemerintah fokus pada dua hal, yang pertama deregulasi dan yang kedua adalah digitalisasi.
Menurut dia, transformasi melalui digital saat ini paling tepat dilakukan karena hampir 70 persen wisatawan ke Indonesia sudah menggunakan digital.
“Di pariwisata, ‘search and share’ itu 70 persen sudah melalui digital. Sudah tidak lagi bisa mengandalkan ‘walk in service’, menyuruh pelanggan datang langsung ke kantor travel agent untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata,” kata Menpar Arief Yahya.
Selain itu, Menpar juga mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin dengan ASITA selama ini. Menpar mengharapkan kerja sama dengan ASITA terjalin dengan semakin baik di kepengurusan baru.
Dalam Rakernas DPP ASITA 2019, Menteri Pariwisata juga melantik Ketua sekaligus jajaran Dewan Pengurus Pusat ASITA untuk masa bakti 2019-2024 di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta.
Peran industri pariwisata yang tergabung dalam ASITA, kata Arief Yahya, sangat penting untuk menjadikan sektor pariwisata memiliki daya saing.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Nunung Rusmiati yang baru saja dilantik menambahkan pihaknya sangat mengapresiasi dukungan pemerintah yang selalu ada di belakang industri.
“Terima kasih kepada pemerintah yang mendengarkan keluhan industri kami terkait tiket pesawat yang sudah mulai turun. Dampak kenaikan tiket pesawat sangat terasa sekali lantaran penyebaran wisatawan menjadi tidak merata di Indonesia. Dan pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk membantu industri pariwisata,” ujarnya.
Nunung Rusmiati dalam sambutannya menetapkan komitmen untuk mendukung pengembangan sektor Pariwisata Indonesia. ASITA memiliki 7.000 anggota yang tersebar di 34 provinsi. Di antaranya adalah melalui partisipasi dalam program-program Kementerian Pariwisata.

Generasi milenial mengubah industri pariwisata.
Milenial sendiri merupakan potensi pasar yang besar, termasuk untuk industri
pariwisata. Menurut data dari Accenture, milenial merepresentasikan 45 persen
dari populasi di Asia Pasifik. “Sementara itu, 60 persen populasi milenial
secara global di tahun 2020 akan berada di Asia. Jadi milenial sangat
signifikan untuk industri. Milenial memiliki daya beli yang besar, dengan
prediksi mereka akan mengeluarkan 6 triliun dollar AS di tahun 2020 untuk
barang dan jasa,” ungkap Senior Managing Director Global Lead Consumer
Industries Accenture Consulting, Teo Correia, di Singapura, saat ditemui pada
acara Milenial 20/20 Summit Singapura, Rabu (7/9/2016). Hal ini tentu
menjadikan milenial sebagai potensi besar di berbagai industri, termasuk
pariwisata. Hanya saja, Teo menuturkan bahwa salah satu karakteristik milenial
adalah mereka bisa saja setia pada sebuah brand, namun dengan mudah beralih.
“Kalau ada alternatif lain yang lebih bisa memberikan keuntungan, mereka
akan beralih,” katanya. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri.
Oleh karena itu, Teo menyarankan bahwa brand harus terus berinovasi terutama
untuk penggunaan teknologi digital.

Seperti
diungkapkan Senior Managing Director Products, Digital Customer Lead, Accenture
Consulting, Simon Eaves, milenial menginginkan sebuah kemudahan dan juga
pengguna teknologi digital. “Mereka menginginkan kemudahan dengan
teknologi digital dari ujung ke ujung. Ingin ada hubungan mulai dari baru keluar
rumah, melakukan perjalanan, dan bahkan sampai ke rumah lagi. Jadi dari mulai
proses check-in di bandara, lalu bisa ke mana saja, hotel, dan
seterusnya,” kata Simon. Oleh karena itu, lanjut Simon, brand industri
pariwisata perlu memanfaatkan teknologi digital. Hal ini pun perlu diterapkan
mulai dari kapal pesiar, hotel, bahkan tempat wisata. “Misalnya sederhana
saja, gelang masuk ke theme park, dari gelang itu semua sudah ada informasinya,
rencana mau ke mana, ada pertunjukan apa. Dan semua harus terpersonalisasi,
sesuai dengan perilaku dan kebutuhan customer tersebut,” kata Simon. Simon
menambahkan salah satu karakter milenial adalah ingin sesuatu yang unik dan
terpersonalisasi sesuai karakter masing-masing.
Sementara itu Managing Director Products Accenture
Consulting, Yap Boom Lim mengatakan bahwa berdasarkan survei yang mereka
lakukan, lebih dari 50 persen milenial menggunakan peralatan digital untuk
berinteraksi dengan hotel. “Mereka menggunakannya dari sejak perjalanan
hingga seluruh perjalanan dan akhir perjalanan. Ini konsisten hasil surveinya,
tidak pandang negara mana, hal ini terjadi di seluruh dunia,” kata Lim.
Hal ini menunjukkan milenial menggunakan teknologi digital untuk mengatur
perjalanan mereka. Lim mengatakan karakter milenial senang melakukan segala
sesuatunya sendiri, mengutamakan efesiensi dan kemudahan, serta kurang sabar.
Oleh karena itu, lanjut Lim, tak heran teknologi digital memegang peranan
penting terhadap perilaku milenial. Accenture sendiri mengembangkan sebuah
platform digital yang jika digunakan sebuah industri pariwisata, entah itu
hotel, kapal pesiar, bahkan bandara, diyakini dapat memenuhi kebutuhan dan
sesuai karakter milenial.
Platform ini merancang kebutuhan perjalanan dalam satu
aplikasi, mulai dari keluar rumah hingga balik lagi ke rumah. Melalui aplikasi
ini, pengguna bisa mengetahui status pesawat terbang, proses check-in hotel,
mengatur kamar hotel yang diinginkan, kunci kamar hotel menggunakan ponsel,
hingga apa saja tempat wisata menarik di sekitar hotel. Semua hal bisa
dilakukan dalam satu genggaman. Accenture Consulting merupakan sebuah
perusahaan multinasional konsultan manajemen, teknologi, dan alih daya global.
Dalam acara Milenial 20/20 Summit pada 7-8 September 2016 dihadirkan 70 panel
diskusi yang mempresentasikan teknologi digital dan tren milenial di industri consumer
goods dan travel.

Ada tren baru di dunia traveling yang merebak sejak tahun 2015. Tren di mana mayoritas pelaku kegiatan traveling adalah para kaum muda, generasi millenial!
Generasi yang lahir antara tahun 1980 dan tahun 2000 (mungkin kamu satu di antaranya) ini telah merajai pergerakan traveling baik di dalam mau pun luar negeri.
Survei yang diadakanTopdeck Travel kepada 31.000 orang dari 134 negara berbeda, sebanyak 88 persen menyatakan telah menjelajah ke luar negeri sampai tiga kali dalam setahun dan 94 persennya merupakan rentang usia 18-30 tahun. Orang-orang muda dikatakan lebih tertarik untuk traveling ke luar negeri dibanding orang yang lebih tua.
PBB bahkan mengatakan bahwa 20 persen dari seluruh wisatawan dunia merupakan mereka yang masih muda, para kaum millennial. Mereka jauh lebih tertarik traveling sebanyak-banyaknya ketimbang generasi yang lebih tua. Tak pelak hal tersebut turut membantu meningkatkan pendapatan negara sebanyak 180 dolar per tahun, dan terus meningkat sejak 2007.

Dibandingkan generasi sebelumnya, millennial membuat gaya traveling jadi lebih menarik. Mereka bahkan membuat gaya tersendiri. Semisal persoalan keuangan yang pas-pasan, millennial sering mengakali pengeluaran selama traveling. Tiket promo pesawat dan tempat penginapan murah selalu jadi serbuan, pun dengan acara makan yang jauh dari restoran mewah. Tak jarang mereka menginap di rumah warga atau di tempat-tempat umum demi menghemat isi dompet. Mereka juga mencintai tempat yang dinaungi Wi-Fi dengan alasan murah. Ya, siapa sih yang tak suka Wi-Fi?
Untuk berpindah ke suatu tempat, millennial dengan pintarnya menolak transportasi umum jika mampu disiasati dengan berjalan kaki. Semua dilakukan demi menekan biaya yang harus dikeluarkan saat berada di negeri orang. Dengan berjalan kaki, uniknya justru mampu menjadikan Millennial jauh lebih bebas dalam berekspresi dan bersosialisasi. Mereka meresap keindahan alam lebih lama, menjadi familiar dengan destinasi yang dituju, dan tak jarang mendapat teman baru saat perjalanan.
Ditambah, perkembangan teknologi yang semakin cepat juga membuat hubungan para Millennial yang bertemu di perjalanan ini tak lekang oleh jarak dan waktu. Mereka bisa tetap berkomunikasi lewat media sosial.
Tak heran kelompok dan komunitas traveling sering kali terbentuk. Baik di Facebook atau Twitter. Anggotanya bukan hanya yang sudah bertemu. Yang tak pernah bertatap muka namun pernah mengarungi destinasi sama, juga ikut bergabung. Mereka berbagi cerita, pengalaman, serta tips traveling. Seolah tumbuh saling percaya dan rasa kekeluargaan. Bahkan fenomena yang sering terjadi saat ini adalah, jika ada generasi millennial ingin pergi ke satu negara, mereka akan lebih mendengar saran dari komunitas dibanding referensi seperti majalah atau situs resmi perusahaan pariwisata
Karena perkembangan teknologi yang cepat, millennial juga menciptakan tren open traveling (open trip). Sebuah konsep di mana mereka akan traveling bersama dengan orang yang belum pernah dikenal, namun memiliki semangat dan tujuan destinasi yang sama. Keuntungan dari konsep ini adalah mereka tak perlu repot mengumpulkan teman yang ujung-ujungnya tak jadi berangkat. Mereka juga bisa membagi biaya, dan mendapat pengalaman serta teman baru. Hal itu juga akan membuat mereka lebih antusias karena ada yang “ditunggu” saat traveling nanti.
Percayalah, meski millennial terlihat traveling seorang diri, namun mereka tak pernah benar-benar sendirian. Karena mereka―atau kamu―mengerti, ini adalah era millennial merajai dunia traveling.

Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.